Tampilkan postingan dengan label Jakarta Biennale. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta Biennale. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2012

Teman Baru

Hina aku menuliskan ini,,
Angkuhnya dirimu membuat aku muak dan ingin melakukan sesuatu pada mu..
Hela nafas mu bangkitkan amarahku...
Jangan harap mulut bicara,, hati dan otak kau pun tak punya,,

Ketenangan,,
Hanya itu yang aku cari..
Bisingkanlah suaramu!!
Lebih Keras lagi!

Aku akan datang
Dan Kamu akan Belajar
Teman Baruku...

Selasa, 06 Maret 2012

Efek Kesepian pada Kesehatan

Merokok adalah salah satu kebiasaan saat kesepian

Kali ini saya aka membahas masalah kesepian, bukan karena "galau" tetapi ini masalah yang sangat kompleks bukan hanya bagi saya namun mungkin bagi semua orang, Kesepian adalah suatu rasa dimana kita membutuhkan orang lain untuk melakukan sesuatu, entah itu berdiskusi, bekerjasama, belajar, dan kegiatan komunikasi lainnya.

Bagi saya Kesepian adalah, kesempatan untuk berintrospeksi sejenak, itu setelah saya membaca sebuah artikel pendek dikoran tadi pagi, dansaya mempraktekkannya tadi siang..
Berkaitan dengan Kesepian, ternyata kesepian sangat berkaitan dengan kesehatan kita, Kesepian dapat berakibat buruk bagi kesehatan. Kesepian menyebabkan berbagai efek negatif di dalam tubuh manusia. Untungnya, dengan melakukan aktifitas dan kontak sosial, beberapa efek buruk tersebut dapat dihilangkan.

John Cacioppo, psikolog dari Universitas Chicago yang mempelajari efek kesepian, mempresentasikan penelitian terbarunya dalam pertemuan Social Psychology and Perception di San Diego. Cacioppo menemukan bahwa kesepian terkait dengan pengerasan pembuluh darah yang menyebabkan tekanan darah tinggi, peradangan, bahkan gangguan belajar dan mengingat.

"Bahkan, lalat buah yang terisolasi memiliki kondisi kesehatan yang buruk dan lebih cepat mati dibandingkan lalat buah yang berinteraksi dengan lalat lain. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan sosial mungkin telah terprogram dalam semua spesies," kata Cacioppo seperti dilansir LiveScience, Senin (5/3/2012).

Dalam sebuah penelitian, Cacioppo dan Steve Cole dari UCLA meneliti bagaimana sistem kekebalan tubuh berubah dari waktu ke waktu pada orang yang terisolasi secara sosial. Mereka mengamati perubahan gen yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh orang yang kesepian. Gen pada individu-individu kesepian ternyata banyak terlibat dalam aktivasi sistem imun dan peradangan.

Beberapa gen penting dalam tubuh juga tidak aktif pada orang yang kesepian, misalnya gen-gen yang penting dalam merespon antivirus dan memproduksi antibodi. Intinya, tubuh orang yang kesepian telah membiarkan pertahanan tubuhnya melemah dari serangan virus dan penyakit lainnya.

Sistem kekebalan tubuh harus membuat keputusan antara memerangi ancaman virus dan melindungi tubuh dari serangan bakteri karena memiliki kemampuan bertempur. Pada orang kesepian yang melihat dunia sebagai tempat yang mengancam, sistem kekebalan tubuh lebih memilih untuk fokus pada bakteri daripada ancaman virus.

Tanpa perlindungan antivirus dan antibodi, kemampuan tubuh untuk melawan kanker dan penyakit lainnya juga akan berkurang. Orang yang terisolasi secara sosial lebih tinggi kemungkinannya menderita berbagai penyakit penyebab kematian, kanker, infeksi dan penyakit jantung.

Kesepian juga meningkatkan kadar hormon stres kortisol, juga sirkulasi dan tekanan darah. Suatu penelitian menunjukkan bahwa isolasi sosial dapat mendorong tekanan darah ke dalam zona bahaya serangan jantung dan stroke. Kondisi ini melemahkan pengaturan sistem peredaran darah sehingga otot jantung bekerja lebih keras dan pembuluh darah mengalami kerusakan akibat tekanan aliran darah.

Kesepian juga dapat merusak kualitas tidur, sehingga tidur menjadi kurang terasa menyegarkan, baik fisik maupun psikologis. Orang yang terisolasi secara sosial lebih sering terjaga di malam hari dan lebih sedikit memiliki jam tidur yang benar-benar berkualitas.

Siklus yang diciptakan oleh kondisi kesepian bisa menjadi spiral. Penelitian lain yang dilakukan oleh Cacioppo menemukan bahwa orang kesepian cenderung menilai interaksi sosialnya lebih negatif dan memiliki kesan buruk pada orang yang telah ditemui.

"Sama seperti ancaman fisik, kesepian melindungi tubuh secara sosial. Hal ini memungkinkan kita tahu kapankah hubungan sosial mulai merenggang, dan menyebabkan otak terus waspada terhadap ancaman sosial. Menjadi kesepian dapat menghasilkan perilaku negatif, orang yang sangat kesepian melihat orang lain sebagai ancaman dan memungkinkannya jatuh lebih dalam ke dalam kesepian," kata Cacioppo.

Kesepian tak hanya membuat orang merasa tidak bahagia, tetapi juga membuat orang menjadi merasa tidak aman secara mental dan fisik. Kesepian sering dialami oleh orang yang merasa ditinggalkan untuk beberapa waktu, baik karena pindah ke kota lain atau memulai sekolah atau kuliah di tempat yang baru.

Biasanya, rasa kesepian mereda dengan sendirinya dalam waktu enam bulan. Untuk mengobati orang yang merasa terisolasi secara kronis, diperlukan terapi psikologis. Cacioppo dan rekannya menemukan dua cara terbaik untuk mengobati kesepian, yaitu memberikan pelatihan keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk melihat dunia dalam cara yang lebih positif dan melakukan aktifitas bersama-sama.

Saya biasa menghabiskan waktu bersama teman-teman BEGOENDAL dan takjarang dengan temen-temen dari komunitas lain,,itu adalah sebuah semangat bagi saya,,ditengah kekurangan saya akan hubungan dari keluarga, tetapi saya masih punya teman-teman untuk mengisi waktu kesepian saya sekaligus bertukar pikiran, hehe JAH blesh Us!!

Kamis, 01 Desember 2011

TERIAK

tag: Rengga (Begoendal)

“Ketika air mata telah mengering. Ketika sudah tak lagi ada alasan bagi sebagian orang untuk tertawa. Disaat amarah telah meletup-letup di ubun kepala. Maka teriaklah sekeras-kerasnya. Tak selalu berarti marah, mungkin ini hanya puncak dari kecewa. Sebagaimana mestinya, kami hanya kehabisan
air mata dan kata-kata.”

Refleksi dari keadaan saat ini dan isu-isu sosial yang tengah berkembang
di tengah masyarakat, saya berinisiatif untuk membuat foto yang berjudul
“teriak”. Dengan perwakilan dari tokoh yang mewakili
isu-isu tersebut.
Semoga foto ini bisa menyampaikan pesan tersirat tentang opini dari sudut
pandangnya sendiri.

TERIAK akan Pendidikan

TERIAK akan Pelecehan  


TERIAK akan Hukum

TERIAK akan Kemacetan dan Kesemrawutan Lalu lintas                                                                                                                            
TERIAK akan Dunia Politik Busuk
TERIAK akan Nasib
Teriak akan Kondisi Pekerjaan
Teriak akan Kondisi Keagamaan
Sungguh Mengerikan keadaan Republik ini...
Pendidikan adalah jalan keluar bagi semua masalah bangsa. Namun ketika pendidikan
ditempatkan di posisi yang esklusif dan tidak terjangkau oleh segala lapisan maka saat itu lah ancaman membayangi negeri ini.

Sedang hangat berbagai kasus pelecehan seksual diangkutan umum yang menimpa perempuan-perempuan muda. Kecemasan kerap mendera para Kartini-Kartini bangsa. Disatu sisi mereka mempunyai tuntutan demi masa depan yang lebih baik namun disisi lain rasa was-was atas keselamatan mereka belum juga terjamin.
Pembodohan dalam ranah hukum yang kerap terjadi dengan paksa menutup mata bagi yang terzalimi.

Semrawutnya jalanan ibu kota menjadi beban tersendiri bagi para pengguna jalan. Disamping kemacetan, keamanan berkendara juga menjadi satu hal penting yang harus dicermati.

Politikus/anggota dewan yang semakin lama mulai terhimpit dengan predikat gandanya, antara pengabdi dan pencuri.

Pengangguran masih menjadi momok di negeri ini.

Sistem kerja kontrak yang semakin jauh dari aturan mainnya tidak lagi memanusiakan pekerja. Tunjangan dan jaminan hanya menjadi mimpi dan harapan kosong.

Islam, FPI, dan terorisme, menimbulkan paradigma baru tentang muslim, bukan hanya di Indonesia namun juga pandangan dunia.




 

Begoendal, Achmad Gozali